Kebenaran itu relatif
kalau anda tidak setuju, lebih baik baca dulu.
Banyak yang berpendapat, khususnya kaum beragama, bahwa satu-satunya kebenaran hakiki adalah Tuhan dan kitab suci mereka. Tapi, di mata kaum Sophis dan ateis, kebanyakan kebenaran di dunia ini adalah relatif, yaitu kebenaran yang belum tentu benar dan juga belum tentu salah, termasuk Tuhan. Uraian teori-teori kebenaran bisa ditemukan dalam ilmu filsafat.
Salah satu contoh sederhana bahwa kebenaran itu relatif, tidak mutlak, adalah letak meja. Saya benar ketika mengatakan “meja itu di sebelah kanan,” karena saya duduk di sisi kiri meja, dan anda pun benar saat menyebut “meja itu di sebelah kiri,” sesuai dengan posisi duduk anda di sisi kanan meja. Maka, di sini, ada dua kebenaran: meja itu di kanan dan meja itu di kiri. (Mikir dulu). Ya benar, sepertinya anda mengerti maksud afif, "kebenaran itu memiliki banyak versi tergantung persepsi"
Contoh lain, anda mungkin akan menyalahkan laki-laki Papua karena memakai koteka, sebagai SEMPAK mereka, afif ulangi sekali lagi karena lucu, SEMPAK (hahaha), atau mencibir pemuda-pemudi Bali karena berciuman bibir dalam ritual adat omed-omedan yang digelar setelah hari raya Nyepi. Bisa jadi anda akan menyebut orang Bali tidak beradat seperti orang bule, padahal bagi umat Hindu di Pulau Dewata, festival ciuman antara perjaka dan perawan itu adalah tradisi luhur untuk memuja Tuhan. Jadi, sekali lagi, di sini nilai kebenaran menjadi relatif.
Intinya, kebenaran pada manusia itu tidaklah mutlak, tapi tergantung dari sudut manakah anda melihat nya, besar kecil keyakinan kita lah yang merubah persepsi benar atau salah sesuatu itu. soal ahok atau haji lulung, soal KPK atau POLRI.
hahaha kok udah kesana lari nya, tapi intinya kalian mengerti maksud saya.
Karena kita manusialah yang menciptakan nilai-nilai dan batasan kebenaran sesuai dengan sudut pandang, latar belakang pendidikan, agama, budaya, dan kepentingan kita sendiri-sendiri.
Karena kita manusialah yang menciptakan nilai-nilai dan batasan kebenaran sesuai dengan sudut pandang, latar belakang pendidikan, agama, budaya, dan kepentingan kita sendiri-sendiri.
“Kebenaran adalah sebuah konsep yang paling membingungkan dalam dunia manusia.”
menurutku, bener nilai kebenaran itu punya sifat subjektivitas individual. Beda point of view, beda value-nya juga..
BalasHapusdan ehh btw aku baru tau lho ada acara ritual begituan di Bali, hehe, nambah ilmu lagi nih haha
well, nice posting, waited for next posting broo